(parodi pendidikan, 1 )
Bangsa ini memang susah membedakan mana yang lembut dan mana yang keras, kok ya nggak habis-habisnya kita ini menyaksikan kekerasan, dan yang jadi masalah kekerasan pun sudah masuk dalam kalangan dunia pendidikan, nggak dimana-mana yang namanya kejahatan pastilah lebih dulu dari pada antisipasi dan aturan yang mengaturnya, jadi kekerasan bukan hanya dialami oleh anak dan wanita didalam rumah tangga, tetapi juga dialami oleh anak yang menjadi siswa dan mahasiswa, kita hampir kehilangan akal untuk mencari alasan apa yang menyebabkan semua ini, kalau pun itu harus ditanggulangi secara khusus perlu UNDANG UNDANG ANTI KEKERASAN DALAM PENDIDIKAN, sekalipun itu tidak menjamin semuanya akan menjadi lebih baik, coba kita bukan lembaran kekerasan dalam kekerasan diseputar dunia pendidikan :
1. Oknum guru melakukan kekerasan terhadap siswa SD;
2. Oknum guru melakukan kekerasan terhadap siswa SMP;
3. Oknum guru melakukan pelecehan seksual dengan siswa;
4. Oknum Siswa melakukan kekerasan ala adegan TV;
5. Oknum Siswa melakukan kekerasan dalam pekan orientasi sekolah;
6. Oknum mahasiswa melakukan kekerasan dalam orientasi kampus.
Padahal tingkat kompetensi guru sudah semakin baik, tingkat kecerdasan anak didik yang diukur dengan ujian nasional semakin tinggi, prestasi siswa sekolah dari SD, SMP, SLTA semakin banyak, prestasi mahasiswa dibidang penemuan dan penelitian semakin banyak, kalangan manajemen yang menangani pendidikan sudah S2, S3, Doktor bahkan guru besar.
Lalu kita mungkin lupa :
1. Guru/Pendidik juga manusia, keterbatasan mereka harus dimaklumi;
2. Murid/siswa juga manusia, yang mudah lupa perlu dingatkan;
3. Orangtua/Wali murid, juga manusia, mereka juga suka Alpa.
4. 1,2 dan 3 kan semua juga manusia.
Kalau kekerasan ini dibiarkan berlangsung terus menerus dan tidak ada yang mampu memutusnya, maka harus diberi tugas dan tanggung jawab yang lebih rinci kepada :
1. Pimpinan Lembaga pendidikan rendah, menengah dan tinggi, bertanggung jawab untuk menjaga proses belajar dan mengajar bebas dari tekanan dan kekerasan, didalam lingkungan sekolahnya, disertai pemberian penghargaan dan sanksi yang terukur;
2. Disetiap Lembaga pendidikan disediakan Psikolog untuk tempat curhat dan mengatasi masalah peserta didik;
3. Diselenggarakan Pertemuan reguler antara Peserta Didik, Pendidik dan Orang Tua.
Bangsa ini memang tidak pernah bisa berorientasi pada proses, hanya hasil semata, apa ini akibat ujian nasional.
Rabu, 24 Desember 2008
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar