Rabu, 24 Desember 2008


Seorang professor diundang untuk berbicara di sebuah basis militer. Disana ia berjumpa dengan seorang prajurit yang tidak mungkin akan dilupakannya, bernama Harry. Harrylah yang dikirim untuk menjemput sang professor di bandara.

Setelah saling memperkenalkan diri, mereka menuju ke tempat pengambilan kopor. Ketka berjalan keluar, Harry sering menghilang. Ternyata banyak hal yang dilakukannya. Ia membantu seorang wanita tua yang kopornya jatuh. Kemudian mengangkat seorang anak kecil agar dapat melihat pemandangan. Ia juga menolong orang yang tersesat dengan menunjukkan arah yang benar. Etiap kali ia selesai, ia kembali ke sisi professor itu dengan tersenyum lebar menghiasi wajahnya.

“Dari mana anda mempelajari hal-hal seperti itu?”, tanya professor. “Oh”, kata Harry, “Selama perang saya kira”. Lalu ia menuturkan kisah perjalanan tugasnya selama di Vietnam. Juga tentang tugasnya saat membersihkan lading ranjau, dan bagaimana ia harus menyaksikan bagaimana satu-persatu temannya tewas terkena ledakan ranjau didepan matanya.

Saya belajar untuk hidup diantara pijakan setiap langkah”, katanya. “Saya tak pernah tahu apakah langkah berikutnya merupakan pijakan terakhir, sehingga saya belajar untuk melkukan segla sesuatu yang sanggup saya lakukan tatkala mengangkat dan memijakkan kaki. Setiap langkah yang saya ayunkan merupakan sebuah dunia baru. Dan saya kira sejak saat itulah saya menjalani kehidupan seperti ini.”

Memang, kelimpahan hidup tidak ditentukn oleh berapa lama kita hidup, melainkan sejauh mana kita menjalani kehidupan yang berkualitas.


mas prie berkata:
Disayat, Digunduli, Diseterika

JUDUL di atas bukan gambaran pemandangan di sebuah kamp penyiksaan melainkan cukup terjadi di rumah Apriyani, di Cibeber Bekasi. Di rumah itulah, selama dua bulan, ia dikabarkan menganiaya pembantunya, Haryanti, wanita asal Tegalrejo, Magelang, Jawa Tengah.

Selama itulah, setiap kesalahan kecil, berarti bencana bagi Haryanti. Bencana itu bisa berupa pukulan balok kayu, jambakan dan sayatan pisau. Puncaknya adalah ketika kepala pembantu itu digunduli dan pahanya diseterika. Oya, dalam aksi aniaya itu, Apriyanti tidak sendiri. Ia juga dibantu anak lelakinya yang mulai pintar menghantamkan balok kayu ke tubuh sang pembantu. Bantuan ini termasuk luar biasa mengingat si anak baru duduk di kelas 1 SD.

Cerita di atas setidaknya membuktikan dua hal. Pertama, betapa praktek perbudakan belum selesai di Indonesia. Kedua, betapa masih serius hambatan usaha pemberdayaan dan penyadaran perempuan.

Soal perbudakan itu, kita memang pernah sangat sukses mengadopsi kebiasan kaum feodal, meski kita cuma feodal gadungan. Di masa lalu, siapapun kita, meskipun bukan priyayi beneran, sepanjang telah bisa mengangkat pembantu, akan langsung mendapat sebutan bendara. Para pembantu itu, berapapun kita bayar, ia datang kepada kita tak lebih untuk ngenger, untuk suwita atau mengabdi. Maka status mereka adalah abdi. Bagi seorang abdi, jangankan bicara soal bayaran tinggi, diizinkan untuk mengabdi pun sudah merupakan anugerah. Maka kekuasaan bendara pada abdinya nyaris mutlak. Kalau perlu boleh main sayat dan main seterika seperti yang terjadi di Bekasi itu.

Sekarang soal pemberdayaan dan penyadaran perempuan itu. Betapa lambat usaha ke arah ini berjalan. Ketika biro-biro jasa mendidik para pekerja, rasanya mereka cuma mengajari bagaimana cara merawat bayi, mencuci dan menyeterika. Mereka tidak diajari, misalnya, agar segera lapor polisi jika dianiaya, agar secepatnya menunjuk pengacara jika hak-haknya terganggu. Tips mengatasi majikan sadis adalah kurikulum yang tak pernah ditanamkan di benak mereka.

Kesadaran atas persoalan-persoalan hukum praktis, kesadaran atas hak-hak profesi, seperti sengaja dijauhkan dari mereka. Betapa mereka sengaja didesain sebagai mesin. Tak pernah diyakinkan bahwa mereka bukan jongos, melainkan para profesional.

Maka orang-orang ini harus berani pasang harga, kalau perlu menolak sebutan pembantu yang meremehkan itu. Bahwa menanak nasi dan merawat bayi harus dianggap sama susahnya dengan membangun jembatan layang dan gedung-gedung tinggi. Orang yang menganggap pekerjaan pembantu sebagai murahan, biarkan menangani pekerjaan itu sendiri. Biarlah Michael Jackson menyeterika bajunya sendiri. Biarlah para pejabat, pengusaha, tauke, insinyur, dokter... ngepel lantai mereka sendiri.

Ya, kaum wanita, baik yang tengah menjadi pembantu maupun para ibu rumah tangga, sebaiknya segera menyadari hal ini. Jika suami Anda adalah orang yang gemar main pukul dan menganiaya, laporklan saja ke polisi. Jika status perkawinanmu digantung, jika dia menyiksamu dengan cara enggan menceraikanmu, tunjuk pengacara untuk membelamu. Buktikan bahwa engkau bukan pihak yang gampang diremehkan dan disakiti. Tapi betapa banyak para wanita yang memilih menahan deritanya secara sembunyi-sembunyi.

Nasihat ini bukan untuk mengajarimu menjadi wanita kurangajar, melainkan sekadar untuk mengingatkan bahwa engkau tak selemah yang engkau duga. Tahukah engkau kenapa Haryanti sampai bisa diseterika dan digebuki bahkan oleh anak SD? Salah satunya ialah karena ia tak pernah memberikan perlawanan apa-apa. Ia selama ini lebih percaya bahwa dirinya adalah abdi yang bahkan kepalanya boleh begitu saja digunduli.


Memandang dari Lain Jurusan
SUDUT pandangku tentang diriku ternyata sangat berkaitan dengan sudut pandangku dengan rasa cemburu. Ketika aku memandang diriku sebagai pemain gitar, senang sekali aku jika ada pemain gitar yang lebih buruk kualitasnya dariku. Kepadanya aku merasa menang dan kalau ia mau, aku bisa menasihatinya berlama-lama, bukan untuk membuatnya pintar, tetapi lebih dari sekadar untuk meneguhkan kemenanganku. Buktinya, kalau anak itu nanti benar-benar pintar karena nasihatku dan malah menyalip kemampuanku, murkalah hatiku.

Tetapi ketika hobi main gitar ini aku tinggalkan dan aku berpindah hobi menjadi pelukis, cuma soal-soal lukisanlah yang bisa membuatku cemburu. Pandanganku terhadap dunia gitar menjadi dingin dan datar. Walau seluruh gitaris terbaik di dunia bergabung untuk memanas-manasi hatiku, aku akan melihatnya sebagai sekadar pertunjukan. Saling cemburu yang kualami dulu kini kutatap sebagai soal yang menggelikan.

Apakah ini berarti aku sudah makin bijak dan matang? Tidak. Kecemburuan itu cuma sekadar sedang berpindah tepat. Kali ini ke dalam dunia seni lukis. Seluruh soal menyangkut lukisan membuatku peka. Seluruh pembicaraan tentang lukisan tanpa melibatkan namaku akan kutafsirkan sebagai penghinaan. Dan ketika dari seorang pelukis aku berpindah ke seni sastra, seluruh soal lukisan yang dulu aku anggap sebagai soal terpenting di dunia itu membuatku malu. Lukisankanku yang kuanggap sebagai mahakarya malah bisa kubagi-bagikan gratis belaka. Di antaranya ia teronggok di tumpukan gudang dan meranggas oleh ketidakpedulian. Tetapi kepada siapa saja sastrawan seangkatan yang mulai mendapat pujian, hatiku jadi tidak tenang karena menurutku, seluruh pujian itu hanya layak dialamatkan kepadaku. Jika ada kritikus lupa menyebut-nyebut namaku dalam deretan sastrawan masa depan, ia akan kutetapkan sebagai lawan.

Aku tak tahu berapa banyak lagi perpindahan minat ini harus kulakukan karena kemungkinan hidup ini ternyata begini kaya dan terbuka. Karena hanya dengan menggesar bacaanku saja bisa berubah minatku atas segala sesuatu. Hanya dengan menggeser pergaulanku, bisa bergeser pula profesiku. Tetapi ke manapun minat dan proses itu menuju ia selalu bertemu dengan rasa cemburunya yang baru. Pilihan-pilihan yang baru itu rasanya selalu diikuti oleh kerikil dalam sepatu. Tiba-tiba di dunia baru itu, ada juga orang yang bakatnya melebihi bakatku, ada keberuntungan yang tampaknya lebih besar tapi bukan untukku. Dan itu biasa membuatku marah setiap waktu.

Lalu siapa kamu, makhluk bernama cemburu yang tak lelah-lelahnya mengikutiku itu? Oh, ia ternyata bukan ia yang setia mengikutiku, melainkan akulah yang setia mengajaknya. Ketika aku berpindah tempat, sang cemburu ini kuiminta untuk dengan sengit mengawasi apa saja yang sehubungan dengan duniaku yang baru. Lalu dunia itu menjadi soal yang amat serius, yang paling penting dan paling mendesak untuk diurus. Kepada sola-soal lain aku mudah menjadi rileks tetapi kepada soal yang satu itu, aku mudah menjadi tegang.

Ternyata inilah pokok persoalannya: begitu yang satu mementing, yang lain menyederhana. Begitu yang satu memfokus, yang lain mengabur. Hidup dengan satu fokus memang ada kalanya penitng. Tetapi ternyata memfokuskan yang satu bukan berarti boleh mengaburkan yang lain. Mementingkan yang satu bukan berarti boleh meremehkan yang lain. Karena semua ternyata penting dan tidak ada yang paling penting sehingga tak perlu ada yang paling aku irikan cuma gara-gara sedang ku anggap paling penting.

Maka ketika aku cemburu pada satu hal, aku cukup mengedarkan pandanganku ke segenap penjuru, untuk mengagumi seluruh kepentingan yang disebar merata di seluruh jagat raya sehingga semua soal lebih mudah terlihat setara.
mas prie gs berkata:
Memandang dari Lain Jurusan
SUDUT pandangku tentang diriku ternyata sangat berkaitan dengan sudut pandangku dengan rasa cemburu. Ketika aku memandang diriku sebagai pemain gitar, senang sekali aku jika ada pemain gitar yang lebih buruk kualitasnya dariku. Kepadanya aku merasa menang dan kalau ia mau, aku bisa menasihatinya berlama-lama, bukan untuk membuatnya pintar, tetapi lebih dari sekadar untuk meneguhkan kemenanganku. Buktinya, kalau anak itu nanti benar-benar pintar karena nasihatku dan malah menyalip kemampuanku, murkalah hatiku.

Tetapi ketika hobi main gitar ini aku tinggalkan dan aku berpindah hobi menjadi pelukis, cuma soal-soal lukisanlah yang bisa membuatku cemburu. Pandanganku terhadap dunia gitar menjadi dingin dan datar. Walau seluruh gitaris terbaik di dunia bergabung untuk memanas-manasi hatiku, aku akan melihatnya sebagai sekadar pertunjukan. Saling cemburu yang kualami dulu kini kutatap sebagai soal yang menggelikan.

Apakah ini berarti aku sudah makin bijak dan matang? Tidak. Kecemburuan itu cuma sekadar sedang berpindah tepat. Kali ini ke dalam dunia seni lukis. Seluruh soal menyangkut lukisan membuatku peka. Seluruh pembicaraan tentang lukisan tanpa melibatkan namaku akan kutafsirkan sebagai penghinaan. Dan ketika dari seorang pelukis aku berpindah ke seni sastra, seluruh soal lukisan yang dulu aku anggap sebagai soal terpenting di dunia itu membuatku malu. Lukisankanku yang kuanggap sebagai mahakarya malah bisa kubagi-bagikan gratis belaka. Di antaranya ia teronggok di tumpukan gudang dan meranggas oleh ketidakpedulian. Tetapi kepada siapa saja sastrawan seangkatan yang mulai mendapat pujian, hatiku jadi tidak tenang karena menurutku, seluruh pujian itu hanya layak dialamatkan kepadaku. Jika ada kritikus lupa menyebut-nyebut namaku dalam deretan sastrawan masa depan, ia akan kutetapkan sebagai lawan.

Aku tak tahu berapa banyak lagi perpindahan minat ini harus kulakukan karena kemungkinan hidup ini ternyata begini kaya dan terbuka. Karena hanya dengan menggesar bacaanku saja bisa berubah minatku atas segala sesuatu. Hanya dengan menggeser pergaulanku, bisa bergeser pula profesiku. Tetapi ke manapun minat dan proses itu menuju ia selalu bertemu dengan rasa cemburunya yang baru. Pilihan-pilihan yang baru itu rasanya selalu diikuti oleh kerikil dalam sepatu. Tiba-tiba di dunia baru itu, ada juga orang yang bakatnya melebihi bakatku, ada keberuntungan yang tampaknya lebih besar tapi bukan untukku. Dan itu biasa membuatku marah setiap waktu.

Lalu siapa kamu, makhluk bernama cemburu yang tak lelah-lelahnya mengikutiku itu? Oh, ia ternyata bukan ia yang setia mengikutiku, melainkan akulah yang setia mengajaknya. Ketika aku berpindah tempat, sang cemburu ini kuiminta untuk dengan sengit mengawasi apa saja yang sehubungan dengan duniaku yang baru. Lalu dunia itu menjadi soal yang amat serius, yang paling penting dan paling mendesak untuk diurus. Kepada sola-soal lain aku mudah menjadi rileks tetapi kepada soal yang satu itu, aku mudah menjadi tegang.

Ternyata inilah pokok persoalannya: begitu yang satu mementing, yang lain menyederhana. Begitu yang satu memfokus, yang lain mengabur. Hidup dengan satu fokus memang ada kalanya penitng. Tetapi ternyata memfokuskan yang satu bukan berarti boleh mengaburkan yang lain. Mementingkan yang satu bukan berarti boleh meremehkan yang lain. Karena semua ternyata penting dan tidak ada yang paling penting sehingga tak perlu ada yang paling aku irikan cuma gara-gara sedang ku anggap paling penting.

Maka ketika aku cemburu pada satu hal, aku cukup mengedarkan pandanganku ke segenap penjuru, untuk mengagumi seluruh kepentingan yang disebar merata di seluruh jagat raya sehingga semua soal lebih mudah terlihat setara.

parodi pendidikan

(parodi pendidikan, 1 )
Bangsa ini memang susah membedakan mana yang lembut dan mana yang keras, kok ya nggak habis-habisnya kita ini menyaksikan kekerasan, dan yang jadi masalah kekerasan pun sudah masuk dalam kalangan dunia pendidikan, nggak dimana-mana yang namanya kejahatan pastilah lebih dulu dari pada antisipasi dan aturan yang mengaturnya, jadi kekerasan bukan hanya dialami oleh anak dan wanita didalam rumah tangga, tetapi juga dialami oleh anak yang menjadi siswa dan mahasiswa, kita hampir kehilangan akal untuk mencari alasan apa yang menyebabkan semua ini, kalau pun itu harus ditanggulangi secara khusus perlu UNDANG UNDANG ANTI KEKERASAN DALAM PENDIDIKAN, sekalipun itu tidak menjamin semuanya akan menjadi lebih baik, coba kita bukan lembaran kekerasan dalam kekerasan diseputar dunia pendidikan :

1. Oknum guru melakukan kekerasan terhadap siswa SD;
2. Oknum guru melakukan kekerasan terhadap siswa SMP;
3. Oknum guru melakukan pelecehan seksual dengan siswa;
4. Oknum Siswa melakukan kekerasan ala adegan TV;
5. Oknum Siswa melakukan kekerasan dalam pekan orientasi sekolah;
6. Oknum mahasiswa melakukan kekerasan dalam orientasi kampus.

Padahal tingkat kompetensi guru sudah semakin baik, tingkat kecerdasan anak didik yang diukur dengan ujian nasional semakin tinggi, prestasi siswa sekolah dari SD, SMP, SLTA semakin banyak, prestasi mahasiswa dibidang penemuan dan penelitian semakin banyak, kalangan manajemen yang menangani pendidikan sudah S2, S3, Doktor bahkan guru besar.

Lalu kita mungkin lupa :
1. Guru/Pendidik juga manusia, keterbatasan mereka harus dimaklumi;
2. Murid/siswa juga manusia, yang mudah lupa perlu dingatkan;
3. Orangtua/Wali murid, juga manusia, mereka juga suka Alpa.
4. 1,2 dan 3 kan semua juga manusia.

Kalau kekerasan ini dibiarkan berlangsung terus menerus dan tidak ada yang mampu memutusnya, maka harus diberi tugas dan tanggung jawab yang lebih rinci kepada :
1. Pimpinan Lembaga pendidikan rendah, menengah dan tinggi, bertanggung jawab untuk menjaga proses belajar dan mengajar bebas dari tekanan dan kekerasan, didalam lingkungan sekolahnya, disertai pemberian penghargaan dan sanksi yang terukur;
2. Disetiap Lembaga pendidikan disediakan Psikolog untuk tempat curhat dan mengatasi masalah peserta didik;
3. Diselenggarakan Pertemuan reguler antara Peserta Didik, Pendidik dan Orang Tua.

Bangsa ini memang tidak pernah bisa berorientasi pada proses, hanya hasil semata, apa ini akibat ujian nasional.

tebakan hari ini


Kura apa yang klo dipegang bisa nampar??

>Jawab: Kuraba pantatmu mbak!!


> Sate apa yg dari jepang..??
>Jawab: Sateria Baja Hitam..

> Abang siapa yang 3 kali puasa, 3 kali lebaran ngga pernah pulang?
>Jawab: bang toyib


> Kecoa apa yang masuk rumah sakit?
>Jawab: Kecoalakaan

> Bandara mana yang disukai pria playboy?
>Jawab: Juanda (apalagi juanda kembang)

> Sapu apa yang selalu menempel ?
>Jawab: Sapu yang tak bisa lepas... ( lagunya Reza ..... )


> Kenapa hantu cewek umumnya pakai daster panjang ?
>Jawab: karena kalau pakai tank top ntar kuburan jadi rame bunyi "suit
>-suiiiiitttt"


> hantu apa yang paling pinter ngitung2?
>Jawab: han, tu, tri, four, five, dst...


> Panda apa yg manis, imut, ngegemesin, dan gak ngebosenin?? ???????
>Jawab: Pandangin gua aja sampe puas........ .....
>